Oleh: Dr. H. KRAT. AM. Jumai, SE., MM
SEMARANG – SUARAJAVAINDO.COM – Dialog publik bertema “Momentum Memperkuat Toleransi dan Solidaritas Sosial” yang menghadirkan Dr. H. Muhammad Adnan, MA yang merupakan tokoh dari Nahdlatul Ulama dan Dr. H. KRAT. AM. Jumai, SE., MM tokoh muda Muhammadiyah menjadi ruang refleksi bersama tentang masa depan kebangsaan. Dalam suasana Ramadhan yang sarat nilai spiritual dan sosial, dialog ini menegaskan bahwa harmoni dan toleransi adalah fondasi utama Indonesia yang maju dan berkeadaban.
Ramadhan: Madrasah Toleransi Sosial.
Ramadhan bukan sekadar ritual ibadah individual, tetapi juga madrasah sosial. Puasa melatih pengendalian diri, empati kepada yang lemah, dan kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dalam keberagaman. Pengalaman menjadi minoritas di lingkungan berbeda termasuk dalam merayakan Idul Fitri mendidik seseorang untuk memahami makna penghormatan dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
Di titik inilah Ramadhan menemukan relevansi sosialnya: membentuk pribadi yang teduh, bukan mudah tersulut; membangun jembatan, bukan tembok pemisah.
Toleransi yang Berprinsip, Bukan Kebablasan
Dr. Muhammad Adnan mengingatkan bahwa toleransi tidak boleh salah arah atau kebablasan. Toleransi dalam Islam bukanlah relativisme akidah, melainkan penghormatan atas keyakinan orang lain tanpa mencampuradukkan prinsip keimanan. Spirit lakum dînukum wa liya dîn menjadi landasan teologis bahwa menghormati bukan berarti mengaburkan identitas.
Toleransi yang sehat adalah toleransi yang berakar pada keyakinan yang kokoh. Justru orang yang mantap dalam akidahnya akan lebih percaya diri dalam menghargai perbedaan. Sebaliknya, sikap permisif tanpa batas berpotensi menimbulkan kebingungan nilai dan kehilangan arah.
Karena itu, solusi membangun toleransi harus dimulai sejak dini melalui pendidikan keluarga, sekolah, dan ruang-ruang sosial. Anak-anak perlu diperkenalkan pada keberagaman sebagai sunnatullah, bukan ancaman. Kurikulum pendidikan harus menanamkan nilai dialog, empati, dan penghormatan lintas perbedaan.
Tantangan Media Sosial dan Polarisasi
Era digital menghadirkan paradoks: informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan sering kali minim. Media sosial kerap menjadi arena ujaran kebencian, provokasi, bahkan kontestasi merasa paling benar. Polarisasi tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi dalam narasi yang memecah belah dan menghilangkan ruang dialog.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk menahan diri, termasuk dalam bermedia sosial. Menahan jari dari menyebar kebencian adalah bagian dari menjaga lisan di era digital. Literasi digital dan kedewasaan emosional menjadi kebutuhan mendesak agar umat tidak mudah terjebak dalam arus ekstremisme dan radikalisme wacana.
Radikalisme hari ini sering berwujud sikap eksklusif dan klaim kebenaran tunggal. Ketika ruang dialog tertutup, prasangka tumbuh subur. Karena itu, generasi muda perlu dibekali pemahaman agama yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Dakwah yang Mencerahkan dan Menggembirakan
AM Jumai menekankan bahwa dakwah harus mencerahkan, mencerdaskan, menggerakkan, dan menggembirakan. Umat jangan dibebani dengan narasi kemarahan dan caci maki. Mimbar agama tidak boleh menjadi ruang pelampiasan kebencian atau klaim kebenaran sepihak.
Dakwah yang mencerahkan menghadirkan solusi.
Dakwah yang mencerdaskan membangun argumentasi, bukan agitasi.
Dakwah yang menggerakkan melahirkan aksi sosial nyata.
Dan dakwah yang menggembirakan menumbuhkan harapan serta optimisme.
Umat harus dibuat gembira dalam beragama. Islam hadir sebagai rahmat, bukan ancaman. Ketika agama disampaikan dengan wajah yang ramah, ia akan menjadi kekuatan pemersatu bangsa.
Peran Tokoh Agama dan Ormas.
Tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi penyejuk kehidupan sosial. Mereka harus berdiri di tengah, merawat persatuan, dan menolak politik adu domba. Dakwah amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan hikmah dan keteladanan.
Kolaborasi lintas ormas dan tokoh agama, seperti yang tercermin dalam dialog ini, merupakan contoh konkret bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bekerja bersama demi kepentingan bangsa.
Indonesia Maju yang Berkeadaban
Indonesia maju bukan semata soal infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kemajuan sejati tercermin pada kualitas akhlak sosial, keadilan, dan solidaritas antarwarga. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang mampu merawat perbedaan tanpa kehilangan persatuan.
Harmoni sosial adalah modal utama ketahanan nasional. Ketika masyarakat rukun, produktivitas meningkat dan konflik dapat diminimalkan. Sebaliknya, jika polarisasi dibiarkan, energi bangsa akan habis untuk pertikaian.
Dari Dialog Menuju Aksi.
Membangun harmoni dan toleransi bukan sekadar wacana, melainkan ikhtiar kolektif yang memerlukan keteladanan dan konsistensi. Ramadhan mengajarkan pengendalian diri, empati, dan kepedulian nilai yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa.
Toleransi harus berprinsip, dakwah harus menggembirakan, dan umat harus dijauhkan dari sikap saling memaki serta merasa paling benar. Jika nilai-nilai ini terus dirawat, maka Indonesia tidak hanya akan maju secara material, tetapi juga kokoh sebagai bangsa yang berkeadaban, damai, dan bermartabat.
