Dari Pesantren untuk Negeri: Menelusuri Jejak Santri dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia

LEBAK, BANTEN[Suarajavaindo] — Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pesantren Nurul Falah Tebuireng 09, Desa Pasir Malang, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, bukan sekadar seremoni tahunan. Di balik pengibaran Sang Merah Putih dan barisan para santri, tersimpan pesan penting tentang bagaimana pesantren, ulama, dan santri memiliki tempat yang tidak terpisahkan dari perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Di bawah asuhan KH Rafi’udin, upacara berlangsung khidmat dan diikuti para santri, siswa, serta dewan guru. Hadir pula Gus Zainal, seorang pemerhati sejarah dan tradisi pesantren sekaligus pengasuh Majelis Istighotsah Padepokan Santri Ki Ageng Selo, Grobogan, Jawa Tengah.

Kehadiran Gus Zainal dalam upacara kemerdekaan di Banten memiliki makna tersendiri. Ia sengaja memilih pesantren sebagai tempat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus melakukan napak tilas spiritual dan sejarah.

Bagi Gus Zainal, kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang melalui upacara. Kemerdekaan harus dipahami melalui sejarah, termasuk sejarah perjuangan para ulama dan santri yang turut mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk mempertahankan Republik Indonesia.

Ada satu persoalan penting yang patut menjadi bahan renungan: seberapa jauh generasi muda mengenal sejarah perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan?

Sejarah Indonesia tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh yang tercatat dalam buku pelajaran. Di berbagai daerah, terdapat ulama, kiai, dan santri yang mengambil peran langsung dalam perjuangan bersenjata maupun perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Banten, misalnya, memiliki figur Brigadir Jenderal KH Syam’un, seorang ulama sekaligus pejuang yang memiliki hubungan kuat dengan dunia pesantren. Jejak perjuangan tersebut menunjukkan bahwa antara nasionalisme, keulamaan dan pesantren pada masa perjuangan tidak selalu berada dalam ruang yang terpisah.

Karena itu, pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengenalkan sejarah tersebut kepada para santri.

Tanpa memahami sejarah, generasi muda akan mudah kehilangan konteks mengenai mengapa bangsa ini harus mempertahankan persatuan, mengapa kemerdekaan harus dijaga, dan mengapa pengabdian kepada negara merupakan bagian penting dari tanggung jawab sebagai warga bangsa.

Gus Zainal menilai, para tokoh pesantren perlu terus menyampaikan kepada para santri bahwa kaum kiai dan santri juga memiliki kontribusi besar dalam perjalanan bangsa.

Sejumlah nama dari kalangan ulama dan santri tercatat memiliki peran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Di antaranya KH Syam’un, KH Kholik Hasyim, Mayor Sungkono, KH Akhyar Kholid, KH Aruji Karta Winata, KH Iskandar Idris, KH Yunus Anis, dan KH Iskandar Sulaiman.

Terlepas dari berbagai perbedaan perspektif mengenai detail sejarah masing-masing tokoh, satu pesan yang tidak boleh hilang adalah bahwa dunia pesantren bukanlah ruang yang terpisah dari kehidupan kebangsaan.

Pesantren telah melahirkan banyak tokoh yang kemudian berkiprah dalam berbagai bidang kehidupan nasional.

Pidato KH Rafi’udin dalam upacara tersebut menjadi relevan dengan konteks tersebut.

Menurutnya, peringatan kemerdekaan di lingkungan pesantren harus menjadi momentum untuk meneguhkan nasionalisme sekaligus menghidupkan nilai hubbul wathan minal iman, yakni kecintaan terhadap tanah air.

Pesantren tidak cukup hanya mencetak generasi yang memiliki pengetahuan agama. Pesantren juga memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang berkarakter, berakhlak, disiplin, berprestasi, dan memiliki kepedulian terhadap bangsa.

Santri hari ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dengan generasi pejuang terdahulu. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata, hari ini tantangannya dapat berupa kemiskinan, kebodohan, intoleransi, penyalahgunaan teknologi, narkoba, kekerasan, radikalisme, korupsi, hingga berbagai persoalan sosial lainnya.

Karena itu, bentuk perjuangan santri masa kini harus disesuaikan dengan zamannya.

Santri dapat berjuang melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kewirausahaan, pelayanan sosial, dakwah yang menyejukkan, serta pengabdian kepada masyarakat dan negara.

Ada satu pesan KH Rafi’udin yang patut direnungkan oleh generasi muda.

Ia mengutip ungkapan Arab:

Laisa al-fata man yaqulu kana abi, wa lakinna al-fata man yaqulu ha anadza.

Maknanya kurang lebih, pemuda sejati bukanlah mereka yang hanya membanggakan siapa ayah atau pendahulunya, melainkan mereka yang mampu berkata, “Inilah saya.”

Pesan tersebut memiliki relevansi yang kuat bagi generasi santri.

Santri tidak boleh hanya berbangga bahwa pendahulunya pernah menjadi pejuang. Santri tidak cukup hanya menghafal nama para kiai dan pahlawan. Lebih dari itu, santri harus mampu menunjukkan kontribusi nyata pada zamannya.

Para pejuang terdahulu telah memberikan pengorbanan dengan darah, tenaga, pikiran dan doa.

Sekarang pertanyaannya: apa yang dapat diberikan generasi hari ini kepada Indonesia?

Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan siapa yang paling berhak disebut sebagai pewaris perjuangan.

Pesan KH Rafi’udin juga mengingatkan para santri agar tidak pernah merasa rendah diri.

Dunia pesantren telah melahirkan tokoh-tokoh yang berkiprah hingga tingkat nasional. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menjadi Presiden Republik Indonesia, sementara KH Ma’ruf Amin pernah mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Keduanya merupakan contoh bahwa pendidikan pesantren tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengambil peran di panggung kebangsaan.

Justru dari pesantren dapat lahir manusia yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kemampuan untuk memahami persoalan bangsa.

Karena itu, santri masa kini harus memiliki keberanian untuk bermimpi besar.

Menjadi santri bukan berarti harus berada di belakang. Menjadi santri berarti memiliki kesempatan untuk memberikan warna bagi Indonesia melalui ilmu, akhlak dan pengabdian

Upacara kemerdekaan di Pesantren Nurul Falah Tebuireng 09 di Banten akhirnya mengingatkan kita pada satu hal sederhana: nasionalisme dapat tumbuh dari mana saja, termasuk dari halaman pesantren.

Ketika para santri berdiri tegak menghormati Merah Putih, sesungguhnya mereka sedang diingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya.

Ada pengorbanan panjang di belakangnya.

Ada air mata.

Ada doa.

Ada perjuangan para ulama, santri, tentara, rakyat, dan berbagai elemen bangsa.

Karena itu, tugas generasi sekarang bukan sekadar mengenang mereka, tetapi melanjutkan nilai perjuangannya.

Santri hari ini tidak harus menjadi pejuang dengan cara yang sama seperti santri masa lalu. Namun mereka harus memiliki semangat yang sama: mencintai negeri, menjaga persatuan, menghormati perbedaan, menuntut ilmu dan mengabdikan kemampuan untuk kepentingan masyarakat.

Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan.

Kemerdekaan adalah keberanian untuk menentukan masa depan sendiri.

Dan di situlah pesan dari halaman pesantren di Banten menjadi penting: jangan hanya bangga dengan sejarah para pendahulu. Buktikan bahwa generasi santri hari ini juga mampu memberikan sesuatu yang berarti bagi negeri.

“Inilah kami, para santri yang siap menjaga negeri.”

Kalimat itu seharusnya tidak berhenti sebagai slogan dalam sebuah upacara. Ia harus menjadi komitmen yang diwujudkan melalui karya, prestasi, akhlak, dan pengabdian kepada Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *