Zaman Wes Tuo, Pepeling Semar: “Eling Lan Waspodo”, Saatnya Intropeksi Diri Dan Membenahi Negri

Opini dan Refleksi Sosial-Keagamaan

GROBOGAN – SUARAJAVAINDO.COM – Pepatah Jawa “Zaman wes tuo, Semar ngelingke: eling lan waspodo” menjadi pengingat bagi seluruh lapisan masyarakat agar senantiasa mawas diri, menjaga perilaku, serta tidak melupakan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Ungkapan “eling lan waspodo” atau ingat dan waspada bukan sekadar petuah leluhur, melainkan ajakan moral untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Ketika kemaksiatan, ketidakjujuran, ketidakadilan, serta pembenaran terhadap hal-hal yang salah semakin dianggap biasa, sudah semestinya kita berhenti sejenak dan melakukan introspeksi diri.

Pepeling Semar mengingatkan bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan kekuasaan, jabatan, harta, maupun kepentingan pribadi. Ada tanggung jawab moral dan spiritual yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada sesama manusia maupun kepada Allah SWT.

Demokrasi dan kepemimpinan perlu dikembalikan pada nilai kebenaran.

Kondisi demokrasi, kepemimpinan, dan lembaga perwakilan rakyat juga perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin dan wakil rakyat harus dijaga melalui kejujuran, keterbukaan, keberanian membela kepentingan rakyat, serta kesediaan menerima kritik.

DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat diharapkan senantiasa menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. Kritik terhadap kebijakan maupun perilaku pejabat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, sepanjang disampaikan secara bertanggung jawab dan berdasarkan persoalan yang nyata.

Jabatan bukanlah alat untuk mempertahankan kepentingan kelompok atau kekuasaan semata. Sebaliknya, jabatan merupakan amanah yang menuntut kejujuran, keadilan, dan keberpihakan kepada kepentingan publik.

Apabila kebenaran mulai diabaikan, ketidakadilan dibiarkan, dan suara masyarakat tidak lagi mendapatkan perhatian yang semestinya, maka seluruh elemen bangsa perlu berani melakukan pembenahan.

Jangan menunggu datangnya teguran Allah SWT untuk kembali ke jalan yang benar.

Dalam pandangan keimanan, manusia hendaknya senantiasa mengingat bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Kita tidak berhak memastikan kapan azab Allah akan datang, tetapi kita wajib menjadikan peringatan agama sebagai dorongan untuk meninggalkan kemaksiatan, menghentikan kezaliman, dan memperbaiki kesalahan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Ar-Ra’d ayat 11, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Pesan tersebut mengajarkan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, hingga tata kelola kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Mari kita semua melakukan introspeksi diri. Jika selama ini ada perkataan yang menyakiti, tindakan yang merugikan orang lain, kebijakan yang tidak adil, atau keputusan yang menyimpang dari kebenaran, sudah waktunya untuk memperbaikinya.

Pemimpin hendaknya memimpin dengan kejujuran. Pejabat hendaknya bekerja dengan amanah. Wakil rakyat hendaknya mendengarkan suara masyarakat. Sementara rakyat juga perlu menjaga persatuan, menjunjung etika, serta berani menyuarakan kebenaran dengan cara yang santun dan bertanggung jawab.

Jangan sampai kita begitu mudah menyalahkan orang lain, tetapi lupa memperbaiki diri sendiri.

PENUTUP

“Zaman wes tuo, Semar ngelingke: eling lan waspodo. Aja nganti kesasar amarga ngoyak drajat, pangkat, lan donya, nanging lali marang bebener lan Gusti Kang Maha Kuwasa.”

Artinya: Zaman semakin tua, Semar mengingatkan agar kita selalu ingat dan waspada. Jangan sampai tersesat karena mengejar derajat, pangkat, dan dunia, tetapi melupakan kebenaran dan Allah Yang Maha Kuasa.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua, melembutkan hati yang keras, membuka hati yang tertutup dari kebenaran, serta menjauhkan bangsa ini dari perpecahan, kezaliman, dan ketidakadilan.

Semoga Allah SWT tidak membenci kita, mengampuni segala kesalahan kita, dan memberikan kekuatan kepada seluruh elemen bangsa untuk kembali menegakkan kejujuran, keadilan, dan amanah. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Penulis: MUGIONO
Owner Media Suara Javaindo & Cyber One News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *