Pemkot Semarang Perkuat Kerukunan Lewat Program Wisata Religi 2026

SEMARANG[Suarajavaindo]  — Pemerintah Kota Semarang kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kehidupan keagamaan dan kerukunan antarumat beragama melalui Program Wisata Religi 2026.

Program yang dikoordinasikan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkot Semarang tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat dari berbagai latar belakang agama untuk mengikuti perjalanan religi sesuai keyakinan masing-masing.

Pada 2026, sebanyak 215 warga Kota Semarang mendapatkan kesempatan mengikuti program tersebut. Jumlah itu terdiri atas 155 peserta ibadah umrah, 50 peserta wisata religi umat Nasrani, lima peserta umat Hindu, dan lima peserta umat Buddha.

Untuk peserta ibadah umrah, keberangkatan dijadwalkan pada 30 September 2026. Sementara jadwal dan destinasi wisata religi bagi umat Nasrani, Hindu, dan Buddha masih dalam tahap koordinasi bersama tokoh agama dan lembaga terkait.

Program Wisata Religi tidak hanya dipandang sebagai fasilitasi perjalanan keagamaan. Pemkot Semarang juga menempatkannya sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan sosial yang harmonis, memperkuat toleransi, serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas spiritual.

Pendiri Forum Silaturahmi Ormas Semarang (FORSOS), sekaligus Ketua Bidang Antar-Lembaga dan Pemerintahan, Piton Prihantono, mengatakan Program Wisata Religi merupakan program yang telah berjalan sejak pemerintahan wali kota sebelumnya dan hingga kini tetap dilanjutkan.

“Program wisata religi di Kota Semarang ini merupakan program yang sudah dilaksanakan sejak wali kota sebelumnya dan sekarang tetap dilanjutkan di era Ibu Agustina,” ujar Piton kepada Suarajavaindo di Kantor FORSOS, kawasan Mugas, Semarang, Rabu (26/8/2026).

Menurut Piton, masyarakat perlu memahami bahwa penentuan peserta Program Wisata Religi dilakukan melalui mekanisme pengajuan dan verifikasi.

“Setiap program yang dilaksanakan Bagian Kesra, terkait pemilihan peserta yang berangkat, melalui tahap pengajuan dan verifikasi,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam dua tahun terakhir terdapat upaya untuk memperluas kesempatan kepada masyarakat yang dinilai berhak dan aktif dalam kegiatan keagamaan. Di antaranya marbot, takmir masjid, guru agama, serta pengurus lembaga dan organisasi keagamaan.

Piton menyebut, peserta ibadah umrah tahun ini didominasi marbot masjid dan guru agama Islam di Kota Semarang. Selain itu, terdapat pula pengurus organisasi kemasyarakatan, LSM, dan unsur masyarakat lainnya.

“Hampir 70 persen peserta umrah tahun ini adalah marbot masjid. Sisanya ada pengurus ormas, LSM dan lainnya. Semuanya melalui proses pengajuan kemudian verifikasi oleh Bagian Kesra,” ujarnya.

Piton juga mengajak masyarakat untuk memperoleh informasi secara utuh dan berimbang terkait pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, setiap informasi mengenai program pemerintah sebaiknya disertai data dan fakta sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Ia menuturkan, dirinya pernah menjadi penerima manfaat Program Wisata Religi sehingga mengetahui secara langsung tahapan yang harus dilalui peserta.

“Saya pribadi pernah menerima manfaat dan mendapatkan informasi yang jelas bagaimana proses ini sampai kita berangkat. Mulai pendaftaran, seleksi, verifikasi, semuanya dilakukan oleh Bagian Kesra,” ungkapnya.

Piton berharap Program Wisata Religi dapat terus dipertahankan sebagai salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat, khususnya mereka yang aktif dalam kegiatan keagamaan.

Menurutnya, kesempatan untuk mengikuti program tersebut seharusnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku.

Apresiasi terhadap program tersebut juga disampaikan salah satu calon peserta umrah, perwakilan GAMAT dan GJL melalui Majelis Gentoku, Amat Priadi.

Ia menilai Program Wisata Religi Pemkot Semarang merupakan program positif karena telah memberikan kesempatan kepada masyarakat yang memiliki keinginan menjalankan ibadah ke Tanah Suci.

“Saya menilai positif karena program ini sudah lama berjalan dan semakin meningkat jumlah pesertanya, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan dan ingin ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah umrah,” kata Amat.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemkot Semarang, khususnya Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti, yang tetap melanjutkan program tersebut.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pemkot, terutama Ibu Wali Kota Semarang, yang telah memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk berangkat wisata religi tahun ini,” ujarnya.

Amat berharap program tersebut dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang sehingga semakin banyak warga yang belum mendapatkan kesempatan dapat ikut merasakan manfaatnya.

“Harapan kami, dengan adanya program ini ke depan tetap terus berjalan dan memberikan kesempatan kepada masyarakat yang belum mendapatkan kesempatan,” katanya.

Program Wisata Religi 2026 diharapkan tidak berhenti pada aspek perjalanan semata. Pengalaman spiritual yang diperoleh para peserta diharapkan dapat membawa dampak positif ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

Nilai-nilai seperti toleransi, kepedulian, saling menghormati, dan semangat berbagi diharapkan semakin tumbuh setelah peserta mengikuti perjalanan religi.

Bagi Pemkot Semarang, kerukunan antarumat beragama merupakan salah satu modal penting dalam menjaga stabilitas sosial dan menciptakan lingkungan kota yang aman, damai, inklusif, serta kondusif.

Melalui program tersebut, pembangunan Kota Semarang diharapkan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga memberikan perhatian terhadap aspek sosial dan spiritual masyarakat.

Keberlanjutan Program Wisata Religi sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar Pemkot Semarang untuk menghadirkan ruang kebersamaan di tengah keberagaman, dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat dari berbagai latar belakang agama untuk menjalankan kehidupan keagamaannya secara aman, nyaman, dan saling menghormati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *